KEUTUHAN
NEGARA KESATUAN REPUBLIK
INDONESIA
1.
Perjuangan
Fisik Mempertahankan NKRI
Setelah
berdirinya NKRI perjuangan kemerdekaan belum berakhir. Keinginan membangun
sendiri Negara yang merdeka dan berdaulat tantangan dari berdaulat tantangan
dari Belanda, karena mereka merasa berhak atas Indonesia sebagai anggota sekutu
yang memenangkan Perang Dunia II. Tetapi rakyat Indonesia melakukan perlawanan.
A. Peristiwa 10
November
Pertempuran Surabaya merupakan peristiwa sejarah perang antara pihak tentara Indonesia dan pasukan Britania Raya. Peristiwa besar ini terjadi pada
tanggal 10 November 1945 di Kota Surabaya, Jawa Timur. Pertempuran ini adalah perang
pertama pasukan Indonesia dengan pasukan asing setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dan satu pertempuran terbesar dan
terberat dalam sejarah Revolusi Nasional Indonesia yang menjadi simbol nasional atas perlawanan
Indonesia terhadap kolonialisme.
Kronologi penyebab peristiwa
Kedatangan Tentara Jepang ke Indonesia
Tanggal 1 Maret 1942, tentara Jepang mendarat di Pulau Jawa, dan tujuh hari kemudian tanggal 8 Maret 1942, pemerintah kolonial Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang
berdasarkan Perjanjian Kalijati. Setelah penyerahan tanpa syarat tersebut,
Indonesia secara resmi diduduki oleh Jepang.
Proklamasi Kemerdekaan Indonesia
Tiga tahun kemudian, Jepang menyerah tanpa syarat
kepada sekutu setelah dijatuhkannya bom atom (oleh Amerika Serikat) di Hiroshima dan Nagasaki. Peristiwa itu terjadi pada bulan Agustus 1945. Dalam kekosongan kekuasaan
asing tersebut, Soekarno kemudian memproklamasikan
kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945
Kedatangan Tentara Inggris & Belanda
Setelah kekalahan pihak Jepang, rakyat dan pejuang
Indonesia berupaya melucuti senjata para tentara Jepang. Maka timbullah
pertempuran-pertempuran yang memakan korban di banyak daerah. Ketika gerakan untuk
melucuti pasukan Jepang sedang berkobar, tanggal 15 September 1945, tentara Inggris mendarat di Jakarta, kemudian mendarat di Surabaya pada
tanggal 25 Oktober 1945. Tentara Inggris datang ke Indonesia tergabung dalam
AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies) atas
keputusan dan atas nama Blok Sekutu, dengan
tugas untuk melucuti tentara Jepang, membebaskan para tawanan perang yang
ditahan Jepang, serta memulangkan tentara Jepang ke negerinya. Namun selain itu
tentara Inggris yang datang juga membawa misi mengembalikan Indonesia kepada
administrasi pemerintahan Belanda sebagai negeri jajahan Hindia Belanda. NICA (Netherlands Indies Civil Administration) ikut
membonceng bersama rombongan tentara Inggris untuk tujuan tersebut. Hal ini
memicu gejolak rakyat Indonesia dan memunculkan pergerakan perlawanan rakyat
Indonesia di mana-mana melawan tentara AFNEI dan pemerintahan NICA.
Insiden di Hotel Yamato, Tunjungan, Surabaya
Setelah munculnya maklumat pemerintah Indonesia
tanggal 31 Agustus 1945 yang menetapkan bahwa mulai 1 September 1945 bendera nasional Sang Saka
Merah Putih dikibarkan
terus di seluruh wilayah Indonesia, gerakan pengibaran bendera tersebut makin
meluas ke segenap pelosok kota Surabaya. Klimaks gerakan pengibaran bendera di
Surabaya terjadi pada insiden perobekan bendera di Yamato Hoteru / Hotel Yamato (bernama Oranje Hotel atau Hotel Oranye pada zaman kolonial, sekarang
bernama Hotel
Majapahit) di Jl.
Tunjungan no. 65 Surabaya.
Sekelompok orang Belanda di bawah pimpinan Mr. W.V.Ch. Ploegman pada malam hari tanggal 18 September 1945, tepatnya pukul 21.00, mengibarkan bendera Belanda (Merah-Putih-Biru), tanpa
persetujuan Pemerintah RI Daerah Surabaya, di tiang pada tingkat teratas Hotel
Yamato, sisi sebelah utara. Keesokan harinya para pemuda Surabaya melihatnya
dan menjadi marah karena mereka menganggap Belanda telah menghina kedaulatan
Indonesia, hendak mengembalikan kekuasan kembali di Indonesia, dan melecehkan
gerakan pengibaran bendera Merah Putih yang sedang berlangsung di Surabaya.
Pengibaran
bendera Indonesia setelah bendera belanda berhasil disobek warna birunya di
hotel Yamato
Tak lama setelah mengumpulnya massa di Hotel Yamato,
Residen Soedirman, pejuang dan diplomat yang saat itu menjabat sebagai
Wakil Residen (Fuku Syuco Gunseikan) yang masih diakui pemerintah Dai Nippon Surabaya Syu, sekaligus sebagai Residen Daerah
Surabaya Pemerintah RI, datang melewati kerumunan massa lalu masuk ke Hotel
Yamato dikawal Sidik dan Hariyono. Sebagai perwakilan RI dia berunding dengan
Mr. Ploegman dan kawan-kawannya dan meminta agar bendera Belanda segera
diturunkan dari gedung Hotel Yamato. Dalam perundingan ini Ploegman menolak
untuk menurunkan bendera Belanda. Perundingan berlangsung memanas, Ploegman
mengeluarkan pistol, dan terjadilah perkelahian dalam
ruang perundingan. Ploegman tewas dicekik oleh Sidik, yang kemudian juga tewas
oleh tentara Belanda yang berjaga-jaga dan mendengar letusan pistol Ploegman,
sementara Soedirman dan Hariyono melarikan diri ke luar Hotel Yamato. Sebagian
pemuda berebut naik ke atas hotel untuk menurunkan bendera Belanda. Hariyono
yang semula bersama Soedirman kembali ke dalam hotel dan terlibat dalam
pemanjatan tiang bendera dan bersama Koesno Wibowo berhasil menurunkan bendera Belanda, merobek bagian birunya, dan mengereknya ke puncak tiang bendera kembali sebagai bendera Merah Putih.
Setelah insiden di Hotel Yamato tersebut, pada tanggal
27 Oktober 1945 meletuslah pertempuran pertama antara Indonesia
melawan tentara Inggris . Serangan-serangan kecil tersebut di kemudian hari
berubah menjadi serangan umum yang banyak memakan korban jiwa di kedua belah
pihak Indonesia dan Inggris, sebelum akhirnya Jenderal D.C. Hawthorn meminta bantuan Presiden Sukarno untuk meredakan situasi.
Kematian Brigadir Jenderal Mallaby
Setelah gencatan senjata antara pihak Indonesia dan pihak
tentara Inggris ditandatangani pada tanggal 29 Oktober 1945, keadaan berangsur-angsur mereda. Walaupun begitu
tetap saja terjadi bentrokan-bentrokan bersenjata antara rakyat dan tentara
Inggris di Surabaya. Bentrokan-bentrokan bersenjata di Surabaya tersebut
memuncak dengan terbunuhnya Brigadir Jenderal Mallaby, (pimpinan tentara Inggris untuk Jawa Timur), pada 30 Oktober 1945 sekitar pukul 20.30. Mobil Buick yang ditumpangi Brigadir Jenderal Mallaby berpapasan
dengan sekelompok milisi Indonesia ketika akan melewati Jembatan Merah. Kesalahpahaman menyebabkan
terjadinya tembak menembak yang berakhir dengan tewasnya Brigadir Jenderal
Mallaby oleh tembakan pistol seorang pemuda Indonesia yang
sampai sekarang tak diketahui identitasnya, dan terbakarnya mobil tersebut
terkena ledakan granat yang menyebabkan jenazah Mallaby sulit dikenali. Kematian
Mallaby ini menyebabkan pihak Inggris marah kepada pihak Indonesia dan berakibat
pada keputusan pengganti Mallaby, Mayor Jenderal Eric Carden Robert Mansergh untuk mengeluarkan ultimatum 10 November 1945 untuk meminta pihak Indonesia menyerahkan
persenjataan dan menghentikan perlawanan pada tentara AFNEI dan administrasi
NICA.
Perdebatan tentang pihak penyebab baku tembak
Mobil Buick Brigadir Jenderal Mallaby yang
meledak di dekat Gedung Internatio dan Jembatan Merah Surabaya
Tom Driberg, seorang Anggota Parlemen Inggris dari Partai Buruh
Inggris (Labour
Party). Pada 20 Februari 1946, dalam perdebatan di Parlemen Inggris (House of Commons) meragukan
bahwa baku tembak ini dimulai oleh pasukan pihak Indonesia. Dia menyampaikan
bahwa peristiwa baku tembak ini disinyalir kuat timbul karena kesalahpahaman 20
anggota pasukan India pimpinan Mallaby yang memulai baku tembak tersebut tidak
mengetahui bahwa gencatan senjata sedang berlaku karena mereka terputus dari
kontak dan telekomunikasi. Berikut kutipan dari Tom Driberg:
"... Sekitar 20 orang (serdadu)
India (milik Inggris), di sebuah bangunan di sisi lain alun-alun, telah
terputus dari komunikasi lewat telepon dan tidak tahu tentang gencatan senjata.
Mereka menembak secara sporadis pada massa (Indonesia). Brigadir Mallaby keluar
dari diskusi (gencatan senjata), berjalan lurus ke arah kerumunan, dengan
keberanian besar, dan berteriak kepada serdadu India untuk menghentikan
tembakan. Mereka patuh kepadanya. Mungkin setengah jam kemudian, massa di
alun-alun menjadi bergolak lagi. Brigadir Mallaby, pada titik tertentu dalam
diskusi, memerintahkan serdadu India untuk menembak lagi. Mereka melepaskan
tembakan dengan dua senapan Bren dan massa bubar dan lari untuk
berlindung; kemudian pecah pertempuran lagi dengan sungguh gencar. Jelas bahwa
ketika Brigadir Mallaby memberi perintah untuk membuka tembakan lagi,
perundingan gencatan senjata sebenarnya telah pecah, setidaknya secara lokal.
Dua puluh menit sampai setengah jam setelah itu, ia (Mallaby) sayangnya tewas
dalam mobilnya-meskipun (kita) tidak benar-benar yakin apakah ia dibunuh oleh
orang Indonesia yang mendekati mobilnya; yang meledak bersamaan dengan serangan
terhadap dirinya (Mallaby). Saya pikir ini tidak dapat dituduh sebagai
pembunuhan licik... karena informasi saya dapat secepatnya dari saksi mata,
yaitu seorang perwira Inggris yang benar-benar ada di tempat kejadian pada saat
itu, yang niat jujurnya saya tak punya alasan untuk pertanyakan ..."
10 November 1945
Setelah terbunuhnya Brigadir Jenderal Mallaby,
penggantinya, Mayor Jenderal Robert Mansergh mengeluarkan ultimatum yang
menyebutkan bahwa semua pimpinan dan orang Indonesia yang bersenjata harus
melapor dan meletakkan senjatanya di tempat yang ditentukan dan menyerahkan
diri dengan mengangkat tangan di atas. Batas ultimatum adalah jam 6.00 pagi
tanggal 10 November 1945.
Ultimatum tersebut kemudian dianggap sebagai penghinaan
bagi para pejuang dan rakyat yang telah membentuk banyak badan-badan perjuangan
/ milisi. Ultimatum tersebut ditolak oleh pihak Indonesia dengan alasan bahwa
Republik Indonesia waktu itu sudah berdiri, dan TKR (Tentara Keamanan Rakyat)
juga telah dibentuk sebagai pasukan negara. Selain itu, banyak organisasi
perjuangan bersenjata yang telah dibentuk masyarakat, termasuk di kalangan
pemuda, mahasiswa dan pelajar yang menentang masuknya kembali pemerintahan
Belanda yang memboncengi kehadiran tentara Inggris di Indonesia.
Bung Tomo di Surabaya, salah satu pemimpin revolusioner
Indonesia yang paling dihormati. Foto terkenal ini bagi banyak orang yang
terlibat dalam Revolusi Nasional Indonesia mewakili jiwa perjuangan revolusi utama Indonesia
saat itu.
Pada 10 November pagi, tentara Inggris mulai
melancarkan serangan. Pasukan sekutu mendapatkan perlawanan dari pasukan dan
milisi Indonesia.
Selain Bung Tomo terdapat pula tokoh-tokoh
berpengaruh lain dalam menggerakkan rakyat Surabaya pada masa itu, beberapa
datang dari latar belakang agama seperti KH. Hasyim Asy'ari, KH. Wahab Hasbullah serta kyai-kyai pesantren lainnya juga mengerahkan santri-santri mereka dan masyarakat sipil
sebagai milisi perlawanan (pada waktu itu masyarakat tidak begitu patuh kepada
pemerintahan tetapi mereka lebih patuh dan taat kepada para kyai/ulama)
sehingga perlawanan pihak Indonesia berlangsung alot, dari hari ke hari, hingga
dari minggu ke minggu lainnya. Perlawanan rakyat yang pada awalnya dilakukan
secara spontan dan tidak terkoordinasi, makin hari makin teratur. Pertempuran
ini mencapai waktu sekitar tiga minggu.
Setidaknya 6,000 - 16,000 pejuang dari pihak Indonesia
tewas dan 200,000 rakyat sipil mengungsi dari Surabaya. Korban dari pasukan
Inggris dan India kira-kira sejumlah 600 - 2000 tentara. Pertempuran berdarah
di Surabaya yang memakan ribuan korban jiwa tersebut telah menggerakkan
perlawanan rakyat di seluruh Indonesia untuk melakukan perlawanan. Banyaknya
pejuang yang gugur dan rakyat sipil yang menjadi korban pada hari 10 November
ini kemudian dikenang sebagai Hari Pahlawan oleh Republik
Indonesia hingga
sekarang.
B.
Agresi
Militer Belanda I
"Operatie
Product" (bahasa Indonesia: Operasi Produk) atau yang
dikenal di Indonesia dengan nama Agresi Militer Belanda I adalah operasi
militer Belanda di Jawa dan Sumatera terhadap Republik
Indonesia yang
dilaksanakan dari 21 Juli 1947 sampai 5 Agustus 1947. Operasi militer ini merupakan
bagian dari Aksi
Polisionil yang
diberlakukan Belanda dalam rangka mempertahankan penafsiran Belanda atas Perundingan
Linggarjati. Dari sudut
pandang Republik
Indonesia, operasi
ini dianggap merupakan pelanggaran dari hasil Perundingan Linggarjati.
Latar belakang
Pada tanggal 15 Juli 1947, van Mook mengeluarkan
ultimatum supaya RI menarik mundur pasukan sejauh 10 km. dari garis
demarkasi. Tentu pimpinan RI menolak permintaan Belanda ini.
Tujuan utama agresi Belanda adalah merebut
daerah-daerah perkebunan yang kaya dan daerah yang memiliki sumber daya alam,
terutama minyak. Namun sebagai kedok untuk dunia internasional, Belanda
menamakan agresi militer ini sebagai Aksi Polisionil, dan menyatakan tindakan
ini sebagai urusan dalam negeri. Letnan Gubernur Jenderal Belanda, Dr. H.J. van
Mook menyampaikan pidato radio di mana dia menyatakan, bahwa Belanda tidak lagi
terikat dengan Persetujuan Linggarjati. Pada saat itu jumlah tentara Belanda
telah mencapai lebih dari 100.000 orang, dengan persenjataan yang modern,
termasuk persenjataan berat yang dihibahkan oleh tentara Inggris dan tentara
Australia.
Dimulainya operasi militer
Konferensi pers pada malam 20 Juli di istana, di mana
Gubernur Jenderal HJ Van Mook mengumumkan pada wartawan tentang dimulainya Aksi
Polisionil Belanda pertama Baru ?. Serangan di beberapa daerah, seperti di
Jawa Timur, bahkan telah dilancarkan tentara Belanda sejak tanggal 21 Juli
malam, sehingga dalam bukunya, J. A. Moor menulis agresi militer Belanda I
dimulai tanggal 20 Juli 1947. Belanda berhasil menerobos ke daerah-daerah yang
dikuasai oleh Republik Indonesia di Sumatera, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa
Timur.
Fokus serangan tentara Belanda di tiga tempat, yaitu
Sumatera Timur, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Di Sumatera Timur, sasaran mereka
adalah daerah perkebunan tembakau, di Jawa Tengah mereka menguasai seluruh
pantai utara, dan di Jawa Timur, sasaran utamanya adalah wilayah di mana
terdapat perkebunan tebu dan pabrik-pabrik gula.
Pada agresi militer pertama ini, Belanda juga
mengerahkan kedua pasukan khusus, yaitu Korps Speciale Troepen (KST) di
bawah Westerling yang kini berpangkat Kapten, dan Pasukan Para I (1e para
compagnie) di bawah Kapten C. Sisselaar. Pasukan KST (pengembangan dari
DST) yang sejak kembali dari Pembantaian Westerling|pembantaian di Sulawesi
Selatan belum pernah beraksi lagi, kini ditugaskan tidak hanya di Jawa,
melainkan dikirim juga ke Sumatera Barat.
Agresi tentara Belanda berhasil merebut daerah-daerah
di wilayah Republik Indonesia yang sangat penting dan kaya seperti kota
pelabuhan, perkebunan dan pertambangan.
Pada 29 Juli 1947, pesawat Dakota Republik dengan
simbol Palang Merah di badan pesawat yang membawa obat-obatan dari Singapura,
sumbangan Palang Merah Malaya ditembak jatuh oleh Belanda dan mengakibatkan
tewasnya Komodor Muda Udara Mas Agustinus Adisucipto, Komodor Muda Udara dr.
Abdulrahman Saleh dan Perwira Muda Udara I Adisumarno Wiryokusumo.
Campur tangan PBB
Republik Indonesia secara resmi mengadukan agresi
militer Belanda ke PBB, karena agresi militer tersebut dinilai telah melanggar
suatu perjanjian Internasional, yaitu Persetujuan
Linggarjati.
Belanda ternyata tidak memperhitungkan reaksi keras
dari dunia internasional, termasuk Inggris, yang tidak lagi menyetujui
penyelesaian secara militer. Atas permintaan India dan Australia, pada 31 Juli
1947 masalah agresi militer yang dilancarkan Belanda dimasukkan ke dalam agenda
Dewan Keamanan PBB, yang kemudian mengeluarkan Resolusi No. 27 tanggal 1
Agustus 1947, yang isinya menyerukan agar konflik bersenjata dihentikan.
Dewan Keamanan PBB de facto mengakui eksistensi
Republik Indonesia. Hal ini terbukti dalam semua resolusi PBB sejak tahun 1947,
Dewan Keamanan PBB secara resmi menggunakan nama INDONESIA, dan bukan Netherlands
Indies. Sejak resolusi pertama, yaitu resolusi No. 27 tanggal 1 Augustus
1947, kemudian resolusi No. 30 dan 31 tanggal 25 Agustus 1947, resolusi No. 36
tanggal 1 November 1947, serta resolusi No. 67 tanggal 28 Januari 1949, Dewan
Keamanan PBB selalu menyebutkan konflik antara Republik Indonesia dengan
Belanda sebagai The Indonesian Question.
Atas tekanan Dewan Keamanan PBB, pada tanggal 15
Agustus 1947 Pemerintah Belanda akhirnya menyatakan akan menerima resolusi
Dewan Keamanan untuk menghentikan pertempuran.
Pada 17 Agustus 1947 Pemerintah Republik Indonesia dan
Pemerintah Belanda menerima Resolusi Dewan Keamanan untuk melakukan gencatan
senjata, dan pada 25 Agustus 1947 Dewan Keamanan membentuk suatu komite yang
akan menjadi penengah konflik antara Indonesia dan Belanda. Komite ini awalnya
hanyalah sebagai Committee of Good Offices for Indonesia (Komite Jasa
Baik Untuk Indonesia), dan lebih dikenal sebagai Komisi Tiga Negara (KTN),
karena beranggotakan tiga negara, yaitu Australia yang dipilih oleh Indonesia, Belgia
yang dipilih oleh Belanda dan Amerika Serikat sebagai pihak yang netral.
Australia diwakili oleh Richard C. Kirby, Belgia diwakili oleh Paul van Zeeland
dan Amerika Serikat menunjuk Dr. Frank Graham.
C. Agresi
Militer Belanda II
Agresi Militer Belanda II atau Operasi Gagak (bahasa Belanda: Operatie Kraai) terjadi
pada 19 Desember 1948 yang diawali dengan serangan terhadap Yogyakarta, ibu kota Indonesia saat itu, serta penangkapan Soekarno, Mohammad Hatta, Sjahrir dan beberapa tokoh lainnya.
Jatuhnya ibu kota negara ini menyebabkan dibentuknya Pemerintah Darurat Republik Indonesia di Sumatra yang dipimpin oleh Sjafruddin Prawiranegara.
Pada hari pertama Agresi Militer Belanda II, mereka
menerjunkan pasukannya di Pangkalan Udara Maguwo dan dari sana menuju ke Ibukota RI di Yogyakarta.
Kabinet mengadakan sidang kilat. Dalam sidang itu diambil keputusan bahwa pimpinan
negara tetap tinggal dalam kota agar dekat dengan Komisi Tiga Negara (KTN) sehingga kontak-kontak diplomatik dapat
diadakan.
Serangan ke Maguwo
Tanggal 18 Desember 1948 pukul 23.30, siaran radio antara dari Jakarta
menyebutkan, bahwa besok paginya Wakil Tinggi Mahkota Belanda, Dr. Beel, akan mengucapkan pidato yang
penting.
Sementara itu Jenderal Spoor yang telah berbulan-bulan
mempersiapkan rencana pemusnahan TNI memberikan instruksi kepada seluruh
tentara Belanda di Jawa dan Sumatera untuk memulai penyerangan terhadap
kubu Republik. Operasi tersebut dinamakan "Operasi Kraai" .
Pukul 2.00 pagi 1e para-compgnie (pasukan para
I) KST di Andir memperoleh parasut mereka dan
memulai memuat keenambelas pesawat transportasi, dan pukul 3.30 dilakukan
briefing terakhir. Pukul 3.45 Mayor Jenderal Engles tiba di bandar udara Andir,
diikuti oleh Jenderal Spoor 15 menit kemudian. Dia melakukan inspeksi dan
mengucapkan pidato singkat. Pukul 4.20 pasukan elit KST di bawah pimpinan
Kapten Eekhout naik ke pesawat dan pukul 4.30 pesawat Dakota pertama tinggal landas. Rute
penerbangan ke arah timur menuju Maguwo diambil melalui Lautan Hindia. Pukul 6.25 mereka menerima berita
dari para pilot pesawat pemburu, bahwa zona penerjunan telah dapat
dipergunakan. Pukul 6.45 pasukan para mulai diterjunkan di Maguwo.
Seiring dengan penyerangan terhadap bandar udara
Maguwo, pagi hari tanggal 19 Desember 1948, WTM Beel berpidato di radio dan menyatakan, bahwa
Belanda tidak lagi terikat dengan Persetujuan
Renville. Penyerbuan
terhadap semua wilayah Republik di Jawa dan Sumatera, termasuk serangan
terhadap Ibukota RI, Yogyakarta, yang kemudian dikenal sebagai
Agresi Militer Belanda II telah dimulai. Belanda konsisten dengan menamakan
agresi militer ini sebagai "Aksi Polisional".
Penyerangan terhadap Ibukota Republik, diawali dengan
pengeboman atas lapangan terbang Maguwo, di pagi hari. Pukul 05.45 lapangan
terbang Maguwo dihujani bom dan tembakan mitraliur oleh 5 pesawat Mustang dan 9 pesawat Kittyhawk. Pertahanan TNI di Maguwo hanya terdiri dari 150
orang pasukan pertahanan pangkalan udara dengan persenjataan yang sangat minim,
yaitu beberapa senapan dan satu senapan anti pesawat 12,7. Senjata berat sedang
dalam keadaan rusak. Pertahanan pangkalan hanya diperkuat dengan satu kompi TNI
bersenjata lengkap. Pukul 06.45, 15 pesawat Dakota menerjunkan pasukan KST
Belanda di atas Maguwo. Pertempuran merebut Maguwo hanya berlangsung sekitar 25
menit. Pukul 7.10 bandara Maguwo telah jatuh ke tangan pasukan Kapten Eekhout.
Di pihak Republik tercatat 128 tentara tewas, sedangkan di pihak penyerang, tak
satu pun jatuh korban.
Sekitar pukul 9.00, seluruh 432 anggota pasukan KST
telah mendarat di Maguwo, dan pukul 11.00, seluruh kekuatan Grup Tempur M
sebanyak 2.600 orang –termasuk dua batalyon, 1.900 orang, dari Brigade T-
beserta persenjataan beratnya di bawah pimpinan Kolonel D.R.A. van Langen telah
terkumpul di Maguwo dan mulai bergerak ke Yogyakarta.
Serangan terhadap kota Yogyakarta juga dimulai dengan
pengeboman serta menerjunkan pasukan payung di kota. Di daerah-daerah lain di
Jawa antara lain di Jawa Timur, dilaporkan bahwa penyerangan bahkan telah
dilakukan sejak tanggal 18 Desember malam hari.
Segera setelah mendengar berita bahwa tentara Belanda
telah memulai serangannya, Panglima Besar Soedirman mengeluarkan perintah kilat yang
dibacakan di radio tanggal 19 Desember 1948 pukul 08.00.
Pemerintahan Darurat
Soedirman dalam keadaan sakit melaporkan diri
kepada Presiden. Soedirman didampingi oleh Kolonel Simatupang, Komodor
Suriadarma serta dr.
Suwondo, dokter pribadinya. Kabinet mengadakan sidang dari pagi sampai siang
hari. Karena merasa tidak diundang, Jenderal Soedirman dan para perwira TNI
lainnya menunggu di luar ruang sidang. Setelah mempertimbangkan segala
kemungkinan yang dapat terjadi, akhirnya Pemerintah Indonesia memutuskan untuk
tidak meninggalkan Ibukota. Mengenai hal-hal yang dibahas serta keputusan yang
diambil dalam sidang kabinet tanggal 19 Desember 1948. Berhubung Soedirman
masih sakit, Presiden berusaha membujuk supaya tinggal dalam kota, tetapi
Sudirman menolak. Simatupang mengatakan sebaiknya Presiden dan Wakil Presiden ikut
bergerilya. Menteri Laoh mengatakan bahwa sekarang ternyata
pasukan yang akan mengawal tidak ada. Jadi Presiden dan Wakil Presiden terpaksa
tinggal dalam kota agar selalu dapat berhubungan dengan KTN sebagai wakil PBB. Setelah dipungut suara, hampir seluruh Menteri yang
hadir mengatakan, Presiden dan Wakil Presiden tetap dalam kota.
Sesuai dengan rencana yang telah dipersiapkan oleh
Dewan Siasat, yaitu basis pemerintahan sipil akan dibentuk di Sumatera, maka Presiden dan Wakil Presiden
membuat surat kuasa yang ditujukan kepada Mr. Syafruddin Prawiranegara, Menteri
Kemakmuran yang sedang berada di Bukittinggi. Presiden dan Wakil Presiden
mengirim kawat kepada Syafruddin Prawiranegara di Bukittinggi, bahwa ia diangkat sementara membentuk
satu kabinet dan mengambil alih Pemerintah Pusat. Pemerintahan Syafruddin ini
kemudian dikenal dengan Pemerintahan Darurat Republik Indonesia. Selain itu, untuk menjaga
kemungkinan bahwa Syafruddin tidak berhasil membentuk pemerintahan di Sumatera,
juga dibuat surat untuk Duta Besar RI untuk India, dr. Sudarsono, serta staf
Kedutaan RI, L. N. Palar dan Menteri Keuangan Mr. A.A. Maramis yang sedang berada di New Delhi.
Empat Menteri yang ada di Jawa namun sedang berada di
luar Yogyakarta sehingga tidak ikut tertangkap adalah Menteri Dalam Negeri, dr. Sukiman, Menteri Persediaan Makanan,Mr. I.J. Kasimo, Menteri Pembangunan dan Pemuda, Supeno, dan Menteri Kehakiman, Mr. Susanto. Mereka belum mengetahui mengenai
Sidang Kabinet pada 19 Desember 1948, yang memutuskan pemberian mandat kepada
Mr. Syafrudin Prawiranegara untuk membentuk Pemerintah Darurat di Bukittinggi,
dan apabila ini tidak dapat dilaksanakan, agar dr. Sudarsono, Mr. Maramis dan
L.N. Palar membentuk Exile Government of Republic Indonesia di New Delhi,
India.
Pada 21 Desember 1948, keempat Menteri tersebut
mengadakan rapat dan hasilnya disampaikan kepada seluruh Gubernur Militer I, II
dan III, seluruh Gubernur sipil dan Residen di Jawa, bahwa Pemerintah Pusat
diserahkan kepada 3 orang Menteri yaitu Menteri Dalam Negeri, Menteri
Kehakiman, Menteri Perhubungan.
Pengasingan Pimpinan Republik
Pada pukul 07.00 WIB tanggal 22 Desember 1948 Kolonel
D.R.A. van Langen memerintahkan para pemimpin republik untuk berangkat ke
Pelabuhan Udara Yogyakarta untuk diterbangkan tanpa tujuan yang jelas. Selama
di perjalanan dengan menggunakan pesawat pembom B-25 milik angkatan udara
Belanda, tidak satupun yang tahu arah tujuan pesawat, pilot mengetahui arah
setelah membuka surat perintah di dalam pesawat, akan tetapi tidak disampaikan
kepada para pemimpin republik. Setelah mendarat di Pelabuhan Udara Kampung Dul
Pangkalpinang (sekarang Bandara Depati Amir) para pemimpin republik baru
mengetahui, bahwa mereka diasingkan ke Pulau Bangka, akan tetapi rombongan
Presiden Soekarno, Sutan Sjahrir, dan Menteri Luar Negeri Haji Agus Salim terus diterbangkan lagi menuju Medan, Sumatera Utara, untuk kemudian diasingkan ke Brastagi dan Parapat, sementara Drs. Moh. Hatta (Wakil Presiden), RS. Soerjadarma
(Kepala Staf Angkatan Udara), MR. Assaat (Ketua KNIP) dan MR. AG.
Pringgodigdo (Sekretaris Negara) diturunkan di pelabuhan udara Kampung Dul
Pangkalpinang dan terus dibawa ke Bukit Menumbing Mentok dengan dikawal truk
bermuatan tentara Belanda dan berada dalam pengawalan pasukan khusus Belanda,
Corps Speciale Troepen.
Gerilya
Setelah itu Soedirman meninggalkan Yogyakarta untuk
memimpin gerilya dari luar kota. Perjalanan bergerilya selama delapan bulan
ditempuh kurang lebih 1000 km di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Tidak jarang Soedirman harus
ditandu atau digendong karena dalam keadaan sakit keras. Setelah
berpindah-pindah dari beberapa desa rombongan Soedirman kembali ke Yogyakarta
pada tanggal 10 Juli 1949.
Kolonel A.H. Nasution, selaku Panglima Tentara dan
Teritorium Jawa menyusun rencana pertahanan rakyat Totaliter yang
kemudian dikenal sebagai Perintah Siasat No 1 Salah satu pokok isinya ialah : Tugas
pasukan-pasukan yang berasal dari daerah-daerah federal adalah ber wingate
(menyusup ke belakang garis musuh) dan membentuk kantong-kantong gerilya
sehingga seluruh Pulau Jawa akan menjadi medan gerilya yang luas.
Salah satu pasukan yang harus melakukan wingate adalah
pasukan Siliwangi. Pada tanggal 19 Desember 1948 bergeraklah pasukan Siliwangi
dari Jawa Tengah menuju daerah-daerah kantong yang telah ditetapkan di Jawa Barat. Perjalanan ini dikenal dengan nama
Long March
Siliwangi. Perjalanan
yang jauh, menyeberangi sungai, mendaki gunung, menuruni lembah, melawan rasa
lapar dan letih dibayangi bahaya serangan musuh. Sesampainya di Jawa Barat
terpaksa pula menghadapi gerombolan DI/TII.
D. Pertempuran
Lima Hari
Pertempuran
Lima Hari adalah
serangkaian pertempuran antara rakyat Indonesia melawan tentara Jepang di Semarang pada masa transisi kekuasaan
ke Belanda yang terjadi pada tanggal 15–19 Oktober 1945. Dua penyebab utama pertempuran ini adalah karena
larinya tentara Jepang dan tewasnya dr. Kariadi.
Kronologi
- Pada 1 Maret 1942, tentara Jepang mendarat di Pulau Jawa, dan tujuh hari kemudian, tepatnya, 8 Maret, pemerintah kolonial Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang. Sejak itu, Indonesia diduduki oleh Jepang
- Tiga tahun kemudian, Jepang menyerah tanpa syarat kepada sekutu setelah dijatuhkannya bom atom (oleh Amerika Serikat) di Hiroshima dan Nagasaki. Peristiwa itu terjadi pada 6 dan 9 Agustus 1945. Mengisi kekosongan tersebut, Indonesia kemudian memproklamirkan kemerdekaannya pada 17Agustus1945.
- Hal pertama yang menyulut kemarahan para pemuda Indonesia adalah ketika pemuda Indonesia memindahkan tawanan Jepang dari Cepiring ke Bulu, dan di tengah jalan mereka kabur dan bergabung dengan pasukan Kidobutai dibawah pimpinan Jendral Nakamura. Kidobutai terkenal sebagai pasukan yang paling berani, dan untuk maksud mencari perlindungan mereka bergabung bersama pasukan Kidobutai di Jatingaleh.
- Setelah kaburnya tawanan Jepang, pada Minggu, 14 Oktober 1945, pukul 6.30 WIB, pemuda-pemuda rumah sakit mendapat instruksi untuk mencegat dan memeriksa mobil Jepang yang lewat di depan RS Purusara. Mereka menyita sedan milik Kempetai dan merampas senjata mereka. Sore harinya, para pemuda ikut aktif mencari tentara Jepang dan kemudian menjebloskannya ke Penjara Bulu. Sekitar pukul 18.00 WIB, pasukan Jepang bersenjata lengkap melancarkan serangan mendadak sekaligus melucuti delapan anggota polisi istimewa yang waktu itu sedang menjaga sumber air minum bagi warga Kota Semarang Reservoir Siranda di Candilama. Kedelapan anggota Polisi Istimewa itu disiksa dan dibawa ke markas Kidobutai di Jatingaleh. Sore itu tersiar kabar tentara Jepang menebarkan racun ke dalam reservoir itu. Rakyat pun menjadi gelisah. Cadangan air di Candi, desa Wungkal, waktu itu adalah satu-satunya sumber mata air di kota Semarang. Sebagai kepala RS Purusara (sekarang Rumah Sakit Kariadi) Dokter Kariadi berniat memastikan kabar tersebut. Selepas Magrib, ada telepon dari pimpinan Rumah Sakit Purusara, yang memberitahukan agar dr. Kariadi, Kepala Laboratorium Purusara segera memeriksa Reservoir Siranda karena berita Jepang menebarkan racun itu. Dokter Kariadi kemudian dengan cepat memutuskan harus segera pergi ke sana. Suasana sangat berbahaya karena tentara Jepang telah melakukan serangan di beberapa tempat termasuk di jalan menuju ke Reservoir Siranda. Isteri dr. Kariadi, drg. Soenarti mencoba mencegah suaminya pergi mengingat keadaan yang sangat genting itu. Namun dr. Kariadi berpendapat lain, ia harus menyelidiki kebenaran desas-desus itu karena menyangkut nyawa ribuan warga Semarang. Akhirnya drg. Soenarti tidak bisa berbuat apa-apa. Ternyata dalam perjalanan menuju Reservoir Siranda itu, mobil yang ditumpangi dr. Kariadi dicegat tentara Jepang di Jalan Pandanaran. Bersama tentara pelajar yang menyopiri mobil yang ditumpanginya, dr. Kariadi ditembak secara keji. Ia sempat dibawa ke rumah sakit sekitar pukul 23.30 WIB. Ketika tiba di kamar bedah, keadaan dr. Kariadi sudah sangat gawat. Nyawa dokter muda itu tidak dapat diselamatkan. Ia gugur dalam usia 40 tahun satu bulan.
Peristiwa Lain
- Sebelum tanggal 20 Oktober, ada kejadian Gencatan Senjata antara kedua belah pihak, tetapi kendati demikian kejadian ini tidak memadamkan situasi, kejadian diperparah dengan pembunuhan sandera (lihat no. 2)
- Di Pedurungan, orang-orang Semarang, terutama dari Mranggen dan Genuk menjadi satu untuk memindahkan tawanan, yang menjadi sandera. Karena janji Jepang untuk mundur tidak dipenuhi maka 75 sandera itu dibunuh, sehingga perang berlanjut.
- Datangnya pemuda dari luar Kota Semarang untuk membantu menjadikan Jepang marah
- Radius 10 km dari Tugumuda menjadi medan peperangan
Tokoh-tokoh yang terlibat
Mengenai
pertempuran lima hari di Semarang ini, ada beberapa tokoh yang terlibat adalah
sbb :
- dr. Kariadi, dokter yang akan mengecek cadangan air minum di daerah Candi yang kabarnya telah diracuni oleh Jepang. Ia juga merupakan Kepala Laboratorium Dinas Pusat Purusara.
- Mr. Wongsonegoro, gubernur Jawa Tengah yang sempat ditahan oleh Jepang.
- Dr. Sukaryo dan Sudanco Mirza Sidharta, tokoh Indonesia yang ditangkap oleh Jepang bersama Mr. Wongsonegoro.
- Mayor Kido (Pemimpin Kidobutai), pimpinan Batalion Kidobutai yang berpusat di Jatingaleh.
- drg. Soenarti, Istri dr. kariadi
- Kasman Singodimejo, Perwakilan perundingan gencatan senjata dari Indonesia.
- Jenderal Nakamura, perwira tinggi yang ditangkap oleh TKR di Magelang
Monumen Tugu Muda
Untuk
memperingati Pertempuran 5 Hari di Semarang, dibangun Tugu Muda sebagai monumen peringatan. Tugu
Muda ini dibangun pada tanggal 10 November 1950. Diresmikan oleh presiden Ir.
Soekarno pada tanggal 20 Mei 1953. Bangunan ini terletak di kawasan yang banyak
merekam peristiwa penting selama lima hari pertempuran di Semarang, yaitu di
pertemuan antara Jl. Pemuda, Jl. Imam Bonjol, Jl. Dr. Sutomo, dan Jl.
Pandanaran dengan lawang sewu. Selain pembangunan Tugu Muda, Nama Dr. Kariadi
diabadikan sebagai nama salah satu rumah sakit di Semarang.
E. Bandung
Lautan Api
Peristiwa
Bandung Lautan Api adalah
peristiwa kebakaran besar yang terjadi di kota Bandung, provinsi Jawa Barat, Indonesia pada 23 Maret 1946. Dalam waktu tujuh jam, sekitar 200.000 penduduk
Bandung[1] membakar rumah mereka, meninggalkan
kota menuju pegunungan di daerah selatan Bandung. Hal ini dilakukan untuk
mencegah tentara Sekutu dan tentara
NICA Belanda untuk dapat menggunakan kota
Bandung sebagai markas strategis militer dalam Perang Kemerdekaan Indonesia.
Latar belakang
Pasukan Inggris bagian dari Brigade MacDonald tiba
di Bandung pada tanggal 12 Oktober 1945. Sejak semula hubungan mereka dengan pemerintah RI
sudah tegang. Mereka menuntut agar semua senjata api yang ada di tangan
penduduk, kecuali TKR dan polisi, diserahkan kepada mereka.
Orang-orang Belanda yang baru dibebaskan dari kamp tawanan mulai melakukan
tindakan-tindakan yang mulai mengganggu keamanan. Akibatnya, bentrokan
bersenjata antara Inggris dan TKR tidak dapat dihindari. Malam tanggal 21 November 1945, TKR dan badan-badan
perjuangan melancarkan serangan terhadap kedudukan-kedudukan Inggris di bagian
utara, termasuk Hotel Homann dan Hotel Preanger yang mereka gunakan sebagai markas.
Tiga hari kemudian, MacDonald menyampaikan ultimatum kepada Gubernur Jawa Barat
agar Bandung Utara dikosongkan oleh penduduk Indonesia, termasuk pasukan
bersenjata.
Ultimatum
Tentara Sekutu agar Tentara Republik Indonesia (TRI, sebutan bagi TNI pada saat itu) meninggalkan kota Bandung mendorong
TRI untuk melakukan operasi "bumihangus". Para pejuang pihak Republik
Indonesia tidak rela
bila Kota Bandung dimanfaatkan oleh pihak Sekutu dan NICA. Keputusan untuk
membumihanguskan Bandung diambil melalui musyawarah Madjelis Persatoean Perdjoangan
Priangan (MP3) di
hadapan semua kekuatan perjuangan pihak Republik Indonesia, pada tanggal 23 Maret 1946
. Kolonel Abdoel Haris
Nasoetion selaku
Komandan Divisi III TRI mengumumkan hasil musyawarah
tersebut dan memerintahkan evakuasi Kota Bandung.[butuh rujukan] Hari itu juga, rombongan besar
penduduk Bandung mengalir panjang meninggalkan kota Bandung dan malam itu
pembakaran kota berlangsung.
Bandung
sengaja dibakar oleh TRI dan rakyat setempat dengan maksud agar Sekutu tidak
dapat menggunakan Bandung sebagai markas strategis militer. Di mana-mana asap
hitam mengepul membubung tinggi di udara dan semua listrik mati. Tentara
Inggris mulai menyerang sehingga pertempuran sengit terjadi. Pertempuran yang
paling besar terjadi di Desa Dayeuhkolot, sebelah selatan Bandung, di mana terdapat gudang amunisi besar milik Tentara Sekutu. Dalam pertempuran ini Muhammad Toha dan Ramdan, dua anggota milisi BRI (Barisan Rakjat Indonesia)
terjun dalam misi untuk menghancurkan gudang amunisi tersebut. Muhammad Toha
berhasil meledakkan gudang tersebut dengan dinamit. Gudang besar itu meledak dan
terbakar bersama kedua milisi tersebut di dalamnya. Staf pemerintahan kota
Bandung pada mulanya akan tetap tinggal di dalam kota, tetapi demi keselamatan
mereka, maka pada pukul 21.00 itu juga ikut dalam rombongan yang mengevakuasi
dari Bandung. Sejak saat itu, kurang lebih pukul 24.00 Bandung Selatan telah
kosong dari penduduk dan TRI. Tetapi api masih membubung membakar kota,
sehingga Bandung pun menjadi lautan api.
Pembumihangusan
Bandung tersebut dianggap merupakan strategi yang tepat dalam Perang Kemerdekaan Indonesia karena kekuatan TRI dan milisi rakyat tidak sebanding
dengan kekuatan pihak Sekutu dan NICA yang berjumlah besar. Setelah peristiwa
tersebut, TRI bersama milisi rakyat melakukan perlawanan secara gerilya dari
luar Bandung. Peristiwa ini mengilhami lagu Halo, Halo
Bandung yang nama
penciptanya masih menjadi bahan perdebatan.
Beberapa
tahun kemudian, lagu "Halo, Halo Bandung" secara resmi
ditulis, menjadi kenangan akan emosi yang para pejuang kemerdekaan Republik
Indonesia alami saat itu, menunggu untuk kembali ke kota tercinta mereka yang
telah menjadi lautan api.
Asal istilah
Istilah Bandung
Lautan Api menjadi istilah yang terkenal setelah peristiwa pembumihangusan
tersebut. Jenderal A.H Nasution adalah Jenderal TRI yang dalam
pertemuan di Regentsweg (sekarang Jalan Dewi Sartika), setelah kembali dari pertemuannya
dengan Sutan
Sjahrir di Jakarta, memutuskan strategi yang akan
dilakukan terhadap Kota Bandung setelah menerima ultimatum Inggris tersebut.
"Jadi saya kembali dari
Jakarta, setelah bicara dengan Sjahrir itu. Memang dalam pembicaraan itu di
Regentsweg, di pertemuan itu, berbicaralah semua orang. Nah, disitu timbul
pendapat dari Rukana, Komandan Polisi Militer di Bandung. Dia berpendapat,
“Mari kita bikin Bandung Selatan menjadi lautan api.” Yang dia sebut lautan
api, tetapi sebenarnya lautan air."-A.H Nasution, 1 Mei 1997
Istilah Bandung
Lautan Api muncul pula di harian Suara Merdeka tanggal 26 Maret 1946. Seorang wartawan muda saat itu, yaitu Atje Bastaman, menyaksikan pemandangan pembakaran Bandung dari
bukit Gunung Leutik di sekitar Pameungpeuk, Garut. Dari puncak itu Atje Bastaman melihat Bandung yang
memerah dari Cicadas sampai dengan Cimindi.
Setelah tiba
di Tasikmalaya, Atje Bastaman dengan bersemangat
segera menulis berita dan memberi judul "Bandoeng Djadi Laoetan Api".
Namun karena kurangnya ruang untuk tulisan judulnya, maka judul berita
diperpendek menjadi "Bandoeng Laoetan Api".
F. Pertempuran
Medan Area
Pertempuran
Medan Area adalah
sebuah peristiwa perlawanan rakyat terhadap Sekutu yang terjadi di Medan, Sumatera Utara.
Tanggal 9 Oktober 1945 dibawah pimpinan T.E.D Kelly. Pendaratan tentara sekutu (Inggris) ini diikuti oleh pasukan sekutu
dan NICA yang dipersiapkan untuk mengambil
alih pemerintahan. Kedatangan tentara sekutu dan NICA ternyata memancing
berbagai insiden terjadi di hotel jalan bali, medan pada tanggal 13 oktober
1945, saat itu seorang penghuni expost )merampas dan menginjak injak lencana
merah putih yang dipakai pemuda indonesia hal ini mengundang kemarahan pemuda
indonesia. Pada tanggal 13 Oktober 1945 barisan pemuda dan TKR
bertempur melawan Sekutu dan NICA dalam upaya merebut dan mengambil alih
gedung-gedung pemerintahan dari tangan Jepang. Inggris mengeluarkan ultimatum kepada
bangsa Indonesia agar menyerahkan senjata kepada Sekutu. Ultimatum ini tidak
pernah dihiraukan. Pada tanggal 1 Desember 1945, Sekutu memasang papan yang
tertuliskan "Fixed Boundaries Medan Area" (batas resmi wilayah
Medan) di berbagai pinggiran kota Medan. Tindakan Sekutu itu merupakan
tantangan bagi para pemuda. Pada tanggal 10 Desember 1945, Sekutu dan NICA melancarkan
serangan besar-besaran terhadap kota Medan. Serangan ini menimbulkan banyak
korban di kedua belah pihak. Pada bulan April 1946, Sekutu berhasil menduduki kota
Medan. untuk sementara waktu Pusat perjuangan rakyat Medan kemudian dipindahkan
ke Siantar, sementara itu perlawanan para laskar pemuda
dipindahkan keluar kota medan,perlawanan terhadap sekutu semakin sengit pada
tanggal 10 Agustus 1946 di tebing Tinggi diadakan pertemuan di antara para
Komandan pasukan yang berjuang di Medan Area dan memutuskan dibentuk nya satu
komando yang bernama komando resimen laskar rakyat untuk memperkuat perlawanan
di kota medan, setelah pertemuan para komando itu pada tanggal 19 Agustus 1946
di Kabanjahe telah terbentuk barisan pemuda indonesia (BPI)dan berganti nama
menjadi Komando resimen laskar Rakyat cabang Tanah Karo, dipimpin oleh Matang
Sitepu. Sebagai ketua umum dibantu oleh Tama Ginting, Payung Bangun, Selamat
Ginting,Rakutta Sembiring, R.M. Pandia, dari N.V mas Persada Koran Karo-karo
dan Keterangan Sebayang. Di dalam Barisan laskar rakyat ini semua potensi
pimpinan pemuda dengan berisan-barisan perjuangannya, dirangkul, bergabung ke
dalam Barisan Pemuda Indonesia termasuk bekas Gyugun atau Haiho seperti: Djamin
Ginting, Nelang Sembiring, Bom Ginting. Sedangkan dari Talapeta: Payung Bangun,
Gandil Bangun, Meriam Ginting, Tampe Malem Sinulingga. Dari N.V. mas Persada:
Koran Karo-karo . Dari Pusera Medan: Selamat Ginting, Rakutta Sembiring dan
tampak sebayang. Demikian pula dari potensi-potensi pemuda lain seperti: Tama
Ginting, Matang Sitepu. Dalam proses sejarah selanjutnya, komando laskar rakyat
kemudian berubah menjadi BKR (Badan Keselamatan Rakyat) yang merupakan tentara
resmi pemerintah dimana Djamin Ginting’s ditetapkan sebagai komandan pasukan
teras bersama-sama Nelang Sembiring dan Bom Ginting yang anggotanya antara lain
Selamat Ginting’s, Nahud Bangun, Rimrim Ginting, Kapiten Purba, Tampak Sebayang
dan lain-lain. Pada umumnya yang menjadi anggota BKR ini adalah para bekas
anggota Gyugun atau Heiho dan berisan-barisan bentukan Jepang. Djamin Ginting.S
bekas komandan pleton Gyugun ditunjuk menjadi Komandan Batalyon BKR Tanah Karo.
Untuk melanjutkan perjuangan di Medan maka pada bulan Agustus 1946 dibentuk Komando Resimen
Laskar Rakyat Medan Area. Komando resimen ini terus mengadakan serangan
terhadap Sekutu diwilayah Medan. Hampir di seluruh wilayah Sumatera terjadi
perlawanan rakyat terhadap Jepang, Sekutu, dan Belanda. Pertempuran
itu terjadi, antara lain di Brastagi, Padang, Bukit Tinggi dan Aceh.
Pertempuran di Ambarawa terjadi pada tanggal 20
November 1945 dan berakhir pada tanggal 15 Desember 1945. Pertempuran itu
terjadi antara pasukan TKR bersama rakyat Indonesia melawan pasukkan sekutu
Inggris.
Peristiwa itu
berlatar belakang insiden di Magelang sesudah mendaratnya Brigade Artileri dari
divisi India ke-23 di Semarang pada atanggal 20 Oktober 1945. Pihak Republik
Indonesia memperkenankan mereka masuk ke wilayah RI untuk mengurus masalah
tawanan perang bangsa Belanda yang berada di penjara Ambarwa dan Magelang. Akan
tetapi kedatangan pasukan sekutu Inggris diikuti oleh orang-orang NICA yang
kemudian mempersenjatai bekas tawanan itu. Pada tanggal 26 Oktober 1945 terjadi
insiden di kota Magelang yang berkembang menjadi pertempuran pasukan TKR dengan
pasukan gabungan sekutu Inggris dan NICA. Insiden itu berhenti setelah presiden
Soekarno dan Brigadir Jendral Bethell datang ke Magelang tanggal 2 November
1945. Mereka mengadakan gencatan senjata dan memperoleh kata sepakat yang
dituangkan dalam 12 pasal. Naskah persetujuan itu diantaranya berisi:
- Pihak sekutu tetap akan menempatkan pasukannya di Magelang untuk melindungi dan mengurus evakuasi APWI (Allied Prisoners War And Interneers atau tawanan perang dan interniran sekutu). Jumlah pasukan sekutu dibatasi sesuai dengan keperluan itu.
- Jalan Ambarawa – Magelang terbuka sebagai jalur lalu lintas Indonesia – Sekutu
- Sekutu tidak akan mengakui aktivitas NICA dalam badan-badan yang berada di bawahnya.
Pihak sekutu
ternyata mengingkari janjinya. Pada tanggal 20 November 1945 di Ambarawa pecah
pertempuran antara pasukan TKR dibawah pimpinan Mayor Sumarto dan tentara
Sekutu. Pada tanggal 21 November 1945, pasukan sekutu yang berada di Magelang
ditarik ke Ambarawa. Namun, tanggal 22 November 1945 pertempuran berkobar
didalam kota dan pasukan sekutu melakukan pengeboman terhadap kampung-kampung
yang berada di sekitar Ambarawa.
Pasukan TKR
bersama dengan pasukan pemuda dari Boyolali, Salatiga, Kartsura bertahan di
kuburan Belanda, sehingga membentuk garis medan sepanjang rel kereta api dan
membelah kota Ambarawa. Sementara itu, dari arah Magelang pasukan TKR dari
divisi V/Purwokerto dibawah pimpinan Imam Androngi melakukan serangan fajar
pada tanggal 21 November 1945 dan berhasil menduduki desa Pingit dan merebut
desa-desa sekitarnya yang sebelumnya diduduki sekutu.
Batalyon
Imam Androngi meneruskan gerakan pengejarannya disusul 3 batalyon dari
Yogyakarta, yaitu Batalyon 10 Divisi III dibawah pimpinan mayor Soeharto,
Batalyon 8 dibawah pimpinan Mayor Sardjono dan Batalyon Sugeng. Musuh akhirnya
terkepung. Walaupun demikian, pasukan musuh mencoba mematahkan pengepungan
dengan mengancam kedudukan pasukan dari belakang dengan tank-tanknya. Untuk
menghindari jatuhnya korban, pasukan mundur ke Bendano. Dengan bantuan resimen
kedua yang dipimpin oleh M Sarbini, Batalyon dari Yogyakarta, gerakan musuh
berhasil ditahan di desa Jambu.
Para
komandan pasukan kemudian mengadakan rapat koordinasi yang dipimpin oleh
Kolonel Holland Iskandar. Rapat itu menghasilkan pembentukan komando yang
disebut Markas Pimpinan Pertempuran dan bertempat di Magelang. Sejak saat itu,
Ambarawa dibagi atas empat sektor, yaitu sektor utara, sektor selatan, sektor
barat, dan sektor timur. Pada tanggal 26 November 1945, pimpinan pasukan TKR
dari Purwokerto yaitu Letnan Kolonel Isdimin gugur dan digantikan oleh Kolonel
Soedirman. Situasi pertempuran menguntungkan pasukan TKR. Pasukan sekutu
Inggris terusir dari Banyubiru pada tanggal 5 Desember 1945, yang merupakan garis
pertahanan terdepan.
Pada tanggal
11 Desember 1945, Kolonel Soedirman mengambil prakarsa untuk mengumpulkan
masing-masing komandan sektor. Akhirnya colonel Soedirman mengambil suatu
kesimpulan bahwa pasukan musuh telah terjepit dan untuk itu perlu dilaksanakan
serangan terakhir. Serangan direncanakan pada tanggal 12 Desember 1945 pukul
04.30 dipimpin oleh masing-masing komandan yang akan melakukan serangan secara
mendadak dari semua sektor. Adapun keberadaan badan-badan perjuangan dapat
menjadi tenaga cadangan.
Pada tanggal
12 Desember 1945 dini hari, pasukan TKR bergerak menuju sasaran masing-masing.
Dalam waktu setngah jam pasukan TKR berhasil mengepung musuh didalam kota.
Pertahanan musuh yang terkuat diperkirakan berada di Benteng Willem yang terletak
di tengah-tengah kota Ambawara. Kota Ambarawa dikepung selama empat hari empat
malam. Pada tanggal 15 Desember 1945, musuh meninggalkan Ambarawa dan mundur ke
Semarang. Pertempuran di Ambarawa ini mempunyai arti penting karena letaknya
yang sangat strategis. Apabila musuh menguasai Ambarawa mereka dapat mengancam
tiga kota utama di Jawa Tengah yaitu Surakarta, Magelang, dan terutama
Yogyakarta yang menjadi pusat kedudukan markas tertinggi TKR.
H. Peristiwa Merah Putih di Manado
Pada tanggal
14 Februari 1946 di Manado terjadi peristiwa Merah Putih. Para pemuda yang
tergabung dalam pasukan KNIL Kompeni VII bersama lascar rakyat dari barisan
pejuang melakuka perebutan kekuasaan pemerintahan di Manado, Tomohon dan
Minahasa. Mereka berhasil menahan sekitar 600 orang pasukan dan pejabat
Belanda. Kemudian pada tanggal 16 Februari 1946 mereka mengeluarkan surat
selebaran yang menyatakan bahwa kekuasaan diseluruh Manado sudah berada di
tangan bangsa Indonesia. Dan untuk memperkuat kedudukan Republik Indonesia, para
pemimpin dan pemuda menyusun pasukan keamanan dengan nama Pasukan Pemuda
Indonesia yang dipimpin oleh Mayor Waisan.
Sejak tanggal 14 Februari 1946, selama sebulan bendera Merah Putih dikibarkan di seluruh pelosok Minahasa. Dr. Sam Ratulangi diangkat menjadi Gubernur Sulawesi yang ditugaskan untuk memperjuangkan keamanan dan kedaulatan rakyat Sulawesi. Ia pun memerintahkan pembentukan Badan Perjuangan Pusat Keselamatan Rakyat. Dr. Sam Ratulangi membuat petisi yang di tandatangani oleh 540 pemuka masyarakat Sulawesi. Dalam petisi itu dinyatakan bahwa seluruh rakyat Sulawesi tidak dapat dipisahkan oleh Republik Indonesia. Karena petisi itu, pada tahun 1946, Sam Ratulangi ditangkap dan dibuang ke Serui ( Irian Barat dan sekarang Papua ).
Sejak tanggal 14 Februari 1946, selama sebulan bendera Merah Putih dikibarkan di seluruh pelosok Minahasa. Dr. Sam Ratulangi diangkat menjadi Gubernur Sulawesi yang ditugaskan untuk memperjuangkan keamanan dan kedaulatan rakyat Sulawesi. Ia pun memerintahkan pembentukan Badan Perjuangan Pusat Keselamatan Rakyat. Dr. Sam Ratulangi membuat petisi yang di tandatangani oleh 540 pemuka masyarakat Sulawesi. Dalam petisi itu dinyatakan bahwa seluruh rakyat Sulawesi tidak dapat dipisahkan oleh Republik Indonesia. Karena petisi itu, pada tahun 1946, Sam Ratulangi ditangkap dan dibuang ke Serui ( Irian Barat dan sekarang Papua ).
I. Puputan
margarana
Pertempuran Puputan Margarana merupakan salah satu pertempuran
antara Indonesia dan Belanda dalam masa Perang kemerdekaan Indonesia yang terjadi pada 20 November 1946. Pertempuran ini dipimpin oleh Kepala Divisi Sunda
Kecil Kolonel I Gusti Ngurah
Rai. Dimana
Pasukan TKR di wilayah ini bertempur dengan
habis habisan untuk mengusir Pasukan Belanda yang kembali datang setelah
kekalahan Jepang, untuk menguasai kembali wilayahnya yang direbut Jepang pada Perang Dunia II, mengakibatkan kematian seluruh
pasukan I Gusti
Ngurah Rai yang
kemudian dikenang sebagai salah-satu Puputan di era awal kemerdekaan serta
mengakibatkan Belanda sukses mendirikan Negara
Indonesia Timur.
Peristiwa
Pada waktu staf MBO berada di desa Marga, I Gusti
Ngurah Rai
memerintahkan pasukannya untuk merebut senjata polisi NICA yang ada di Kota Tabanan. Perintah itu dilaksanakan pada 20 November 1946 (malam hari) dan berhasil baik. Beberapa pucuk
senjata beserta pelurunya dapat direbut dan seorang komandan polisi NICA ikut
menggabungkan diri kepada pasukan Ngurah Rai. Setelah itu pasukan segera
kembali ke Desa Marga. Pada 20 November 1946 sejak pagi-pagi buta tentara
Belanda mulai nengadakan pengurungan terhadap Desa Marga. Kurang lebih pukul
10.00 pagi mulailah terjadi tembak-menembak antara pasukan NICA dengan pasukan
Ngurah Rai. Pada pertempuran yang seru itu pasukan bagian depan Belanda banyak
yang mati tertembak. Oleh karena itu, Belanda segera mendatangkan bantuan dari semua
tentaranya yang berada di Bali ditambah pesawat pengebom yang didatangkan dari Makassar. Di dalam pertempuran yang sengit
itu semua anggota pasukan Ngurah Rai bertekad tidak akan mundur sampai titik
darah penghabisan. Di sinilah pasukan Ngurah Rai mengadakan "Puputan" atau perang habis-habisan di
Desa Margarana sehingga pasukan yang berjumlah 96 orang itu semuanya gugur,
ermasuk Ngurah Rai sendiri. Sebaliknya, di pihak Belanda ada lebih kurang 400 orang yang
tewas. Untuk mengenang peristiwa tersebut pada tanggal 20 November 1946 dikenal
dengan perang puputan margarana, dan kini pada bekas arena pertempuran itu
didirikan Tugu Pahlawan Taman Pujaan Bangsa.
J. Pembantaian
Westerling
Pembantaian Westerling adalah sebutan untuk peristiwa
pembunuhan ribuan rakyat sipil di Sulawesi Selatan yang dilakukan oleh pasukan Belanda
Depot
Speciale Troepen pimpinan Raymond Pierre Paul Westerling. Peristiwa ini terjadi pada bulan Desember 1946-Februari 1947 selama operasi militer Counter Insurgency
(penumpasan pemberontakan).
Operasi militer
Tahap pertama
Aksi pertama operasi Pasukan Khusus DST dimulai pada
malam tanggal 11 menjelang 12 Desember. Sasarannya adalah desa Batua serta
beberapa desa kecil di sebelah timur Makassar dan Westerling sendiri yang
memimpin operasi itu. Pasukan pertama berkekuatan 58 orang dipimpin oleh Sersan
Mayor H. Dolkens menyerbu Borong dan pasukan
kedua dipimpin oleh Sersan Mayor Instruktur J. Wolff beroperasi di Batua dan
Patunorang. Westerling sendiri bersama Sersan Mayor Instruktur W. Uittenbogaard
dibantu oleh dua ordonan, satu operator radio serta 10 orang staf menunggu di
desa Batua.
Pada fase pertama, pukul 4 pagi wilayah itu dikepung
dan seiring dengan sinyal lampu pukul 5.45 dimulai penggeledahan di rumah-rumah
penduduk. Semua rakyat digiring ke desa Batua. Pada fase ini, 9 orang yang
berusaha melarikan diri langsung ditembak mati. Setelah berjalan kaki beberapa
kilometer, sekitar pukul 8.45 seluruh rakyat dari desa-desa yang digeledah
telah terkumpul di desa Batua. Tidak diketahui berapa jumlahnya secara tepat.
Westerling melaporkan bahwa jumlahnya antara 3.000 sampai 4.000 orang yang
kemudian perempuan dan anak-anak dipisahkan dari pria.
Fase kedua dimulai, yaitu mencari "kaum
ekstremis, perampok, penjahat dan pembunuh". Westerling sendiri yang memimpin
aksi ini dan berbicara kepada rakyat, yang diterjemahkan ke bahasa Bugis. Dia memiliki daftar nama
"pemberontak" yang telah disusun oleh Vermeulen. Kepala adat dan
kepala desa harus membantunya mengidentifikasi nama-nama tersebut. Hasilnya
adalah 35 orang yang dituduh langsung dieksekusi di tempat. Metode Westerling
ini dikenal dengan nama "Standrecht" – pengadilan (dan
eksekusi) di tempat. Dalam laporannya Westerling menyebutkan bahwa yang telah
dihukum adalah 11 ekstremis, 23 perampok dan seorang pembunuh.
Fase ketiga adalah ancaman kepada rakyat untuk
tindakan pada masa depan, penggantian Kepala desa serta pembentukan polisi desa
yang harus melindungi desa dari anasir-anasir "pemberontak, teroris dan
perampok". Setelah itu rakyat disuruh pulang ke desa masing-masing.
Operasi yang berlangsung dari pukul 4 hingga pukul 12.30 telah mengakibatkan
tewasnya 44 rakyat desa.
Demikianlah "sweeping ala Westerling".
Dengan pola yang sama, operasi pembantaian rakyat di Sulawesi Selatan berjalan
terus. Westerling juga memimpin sendiri operasi di desa Tanjung Bunga pada
malam tanggal 12 menjelang 13 Desember 1946. 61 orang ditembak mati. Selain itu
beberapa kampung kecil di sekitar desa Tanjung Bunga dibakar, sehingga korban
tewas seluruhnya mencapai 81 orang.
Berikutnya pada malam tanggal 14 menjelang 15
Desember, tiba giliran Kalukuang yang
terletak di pinggiran kota Makassar, 23 orang rakyat ditembak mati. Menurut
laporan intelijen mereka, Wolter Monginsidi dan Ali Malakka yang diburu oleh tentara Belanda berada di wilayah
ini, namun mereka tidak dapat ditemukan. Pada malam tanggal 16 menjelang
tanggal 17 Desember, desa Jongaya yang
terletak di sebelah tenggara Makassar menjadi sasaran. Di sini 33 orang
dieksekusi.
Tahap kedua
Setelah daerah sekitar Makassar dibersihkan, aksi
tahap kedua dimulai tanggal 19 Desember 1946. Sasarannya adalah Polobangkeng yang terletak di
selatan Makassar di mana menurut laporan intelijen Belanda, terdapat sekitar
150 orang pasukan TNI serta sekitar 100 orang anggota laskar bersenjata. Dalam
penyerangan ini, Pasukan DST menyerbu bersama 11 peleton tentara KNIL dari
Pasukan Infanteri XVII. Penyerbuan ini dipimpin oleh Letkol KNIL Veenendaal.
Satu pasukan DST di bawah pimpinan Vermeulen menyerbu desa Renaja dan Ko'mara. Pasukan lain mengurung Polobangkeng. Selanjutnya
pola yang sama seperti pada gelombang pertama diterapkan oleh Westerling. Dalam
operasi ini 330 orang rakyat tewas dibunuh.
Tahap ketiga
Aksi tahap ketiga mulai dilancarkan pada 26 Desember 1946 terhadap Gowa dan dilakukan dalam tiga gelombang,
yaitu tanggal 26 dan 29 Desember serta 3 Januari 1947. Di sini juga dilakukan kerja sama antara Pasukan
Khusus DST dengan pasukan KNIL. Korban tewas di kalangan penduduk berjumlah 257
orang.
Pemberlakuan keadaan darurat
Untuk lebih memberikan keleluasaan bagi Westerling,
pada 6 Januari 1947 Jenderal Simon Spoor memberlakukan noodtoestand
(keadaan darurat) untuk wilayah Sulawesi Selatan. Pembantaian rakyat dengan
pola seperti yang telah dipraktikkan oleh pasukan khusus berjalan terus dan di
banyak tempat, Westerling tidak hanya memimpin operasi, melainkan ikut menembak
mati rakyat yang dituduh sebagai teroris, perampok atau pembunuh.
Pertengahan Januari 1947 sasarannya adalah pasar di Parepare dan dilanjutkan di Madello, Abbokongeng, Padakkalawa, satu desa tak dikenal, Enrekang, Talabangi, Soppeng, Barru, Malimpung, dan Suppa.
Setelah itu, masih ada beberapa desa dan wilayah yang
menjadi sasaran Pasukan Khusus DST tersebut, yaitu pada tanggal 7 dan 14
Februari di pesisir Tanete, sementara di kampung Pasa Baru Tanete terdapat 48
korban yang ditembak mati, pada tanggal 16 dan 17 Februari di desa Taraweang dan Bornong-Bornong. Kemudian juga di Mandar, di mana
364 orang penduduk tewas dibunuh. Pembantaian para "ekstremis"
bereskalasi di Kulo, Amparita dan Maroangin di mana 171 penduduk dibunuh tanpa
sedikit pun dikemukakan bukti kesalahan mereka atau alasan pembunuhan.
Selain itu, di aksi-aksi terakhir, tidak seluruhnya
"teroris, perampok dan pembunuh" yang dibantai berdasarkan daftar
yang mereka peroleh dari dinas intel, melainkan secara sembarangan orang-orang
yang sebelumnya ada di tahanan atau penjara karena berbagai sebab, dibawa ke
luar dan dikumpulkan bersama terdakwa lain untuk kemudian dibunuh.
H.C. Kavelaar, seorang wajib militer KNIL, adalah
saksi mata pembantaian di alun-alun di Tanete, di mana sekitar 10 atau 15
penduduk dibunuh. Dia menyaksikan, bagaimana Westerling sendiri menembak mati
beberapa orang dengan pistolnya, sedangkan lainnya diberondong oleh peleton DST
dengan sten gun.
Di semua tempat, pengumpulan data mengenai orang-orang
yang mendukung Republik, intel Belanda selalu dibantu oleh pribumi yang rela
demi uang dan kedudukan. Pada aksi di Gowa, Belanda dibantu oleh seorang kepala
desa, Hamzah, yang tetap setia kepada Belanda.
Peristiwa Galung Lombok
Peristiwa maut di Galung Lombok terjadi pada tanggal 2 Februari 1947. Ini adalah peristiwa
pembantaian Westerling, yang telah menelan korban jiwa terbesar di antara semua
korban yang jatuh di daerah lain sebelumnya. Pada peristiwa itu, M. Joesoef
Pabitjara Baroe (anggota Dewan Penasihat PRI) bersama
dengan H. Ma'roef Imam Baroega, Soelaiman Kapala Baroega, Daaming Kapala
Segeri, H. Nuhung Imam Segeri, H. Sanoesi, H. Dunda, H. Hadang, Muhamad Saleh,
Sofyan, dan lain-lain, direbahkan di ujung bayonet dan menjadi sasaran peluru.
Setelah itu, barulah menyusul adanya pembantaian serentak terhadap orang-orang
yang tak berdosa yang turut digiring ke tempat tersebut.
Semua itu belum termasuk korban yang dibantai habis di
tempat lain, seperti Abdul Jalil Daenan Salahuddin (kadi Sendana), Tambaru Pabicara Banggae, Atjo
Benya Pabicara Pangali-ali, ketiganya anggota Dewan Penasihat PRI, Baharuddin
Kapala Bianga (Ketua Majelis Pertahanan PRI), Dahlan Tjadang (Ketua Majelis
Urusan Rumah Tangga PRI), dan masih banyak lagi. Ada pula yang diambil dari
tangsi Majene waktu itu dan dibawa ke Galung Lombok lalu diakhiri hidupnya.
Sepuluh hari setelah terjadinya peristiwa yang lazim
disebut Peristiwa Galung Lombok itu, menyusul penyergapan terhadap delapan
orang pria dan wanita, yaitu Andi Tonra (Ketua Umum PRI), A. Zawawi Yahya
(Ketua Majelis Pendidikan PRI), Abdul Wahab Anas (Ketua Majelis Politik PRI),
Abdul Rasyid Sulaiman (pegawai kejaksaan pro-RI), Anas (ayah kandung Abdul
Wahab), Nur Daeng Pabeta (kepala Jawatan Perdagangan Dalam Negeri), Soeradi
(anggota Dewan Pimpinan Pusat PRI), dan tujuh hari kemudian ditahan pula Ibu
Siti Djohrah Halim (pimpinan Aisyah dan Muhammadiyah Cabang Mandar), yang pada masa PRI
menjadi Ketua Majelis Kewanitaan.
Dua di antara mereka yang disiksa adalah Andi Tonran
dan Abdul Wahab Anas. Sedangkan Soeradi tidak digiring ke tiang gantungan,
melainkan disiksa secara bergantian oleh lima orang NICA, sampai menghebuskan napas terakhir di bawah saksi
mata Andi Tonra dan Abdul Wahab Anas.rg
Pasca operasi militer
Jenderal Spoor menilai bahwa keadaan darurat di
Sulawesi Selatan telah dapat diatasi, maka dia menyatakan mulai 21 Februari 1947 diberlakukan kembali Voorschrift voor de
uitoefening van de Politiek-Politionele Taak van het Leger - VPTL (Pedoman
Pelaksanaan bagi Tentara untuk Tugas di bidang Politik dan Polisional), dan
Pasukan DST ditarik kembali ke Jawa.
Dengan keberhasilan menumpas para ekstrimis, di
kalangan Belanda baik militer mau pun sipil reputasi Pasukan Khusus DST dan
komandannya, Westerling melambung tinggi. Media massa Belanda memberitakan
secara superlatif. Ketika pasukan DST tiba kembali ke Markas DST pada 23 Maret
1947, mingguan militer Het Militair Weekblad menyanjung dengan berita:
"Pasukan si Turki kembali." Berita pers Belanda sendiri yang kritis
mengenai pembantaian di Sulawesi Selatan baru muncul untuk pertama kali pada
bulan Juli 1947.
Kamp DST kemudian dipindahkan ke Kalibata, dan setelah itu, karena dianggap sudah terlalu
sempit, selanjutnya dipindahkan ke Batujajar dekat Cimahi. Pada bulan Oktober 1947 dilakukan
reorganisasi di tubuh DST dan komposisi Pasukan Khusus tersebut kemudian
terdiri dari 2 perwira dari KNIL, 3 perwira dari KL (Koninklijke Leger), 24
bintara KNIL, 13 bintara KL, 245 serdadu KNIL dan 59 serdadu KL. Pada tanggal 5 Januari 1948, nama DST diubah menjadi Korps
Speciale Troepen – KST
(Korps Pasukan Khusus) dan kemudian juga memiliki unit
parasutis. Westerling
memegang komando pasukan yang lebih besar dan lebih hebat dan pangkatnya
menjadi Kapten.
Korban
Berapa ribu rakyat Sulawesi Selatan yang menjadi
korban keganasan tentara Belanda hingga kini tidak jelas. Tahun 1947, delegasi
Republik Indonesia menyampaikan kepada Dewan
Keamanan PBB, korban
pembantaian terhadap penduduk, yang dilakukan oleh Kapten Raymond Westerling
sejak bulan Desember 1946 di Sulawesi Selatan mencapai 40.000 jiwa.
Pemeriksaan Pemerintah Belanda tahun 1969 memperkirakan sekitar 3.000 rakyat Sulawesi tewas
dibantai oleh Pasukan Khusus pimpinan Westerling, sedangkan Westerling sendiri
mengatakan, bahwa korban akibat aksi yang dilakukan oleh pasukannya
"hanya" 600 orang.
Perbuatan Westerling beserta pasukan khususnya dapat
lolos dari tuntutan pelanggaran HAM Pengadilan Belanda karena sebenarnya aksi
terornya yang dinamakan contra-guerilla, memperoleh izin dari Letnan
Jenderal Spoor dan Wakil Gubernur Jenderal Dr. Hubertus Johannes van Mook. Jadi yang sebenarnya bertanggungjawab atas pembantaian
rakyat Sulawesi Selatan adalah Pemerintah dan Angkatan Perang Belanda.
Pembantaian tentara Belanda di Sulawesi Selatan ini
dapat dimasukkan ke dalam kategori kejahatan atas kemanusiaan (crimes against
humanity), yang hingga sekarangpun dapat dimajukan ke pengadilan internasional,
karena untuk pembantaian etnis (Genocide) dan crimes against humanity, tidak
ada kedaluwarsanya. Perlu diupayakan, peristiwa pembantaian ini dimajukan ke International Criminal Court (ICC) di Den Haag, Belanda.
Permintaan maaf
Pada 12 September 2013, Pemerintah Belanda melalui
Duta Besarnya di Jakarta, Tjeerd de Zwaan, menyampaikan permintaan maafnya
kepada seluruh korban pembantaian. "Atas nama Pemerintah Belanda saya
meminta maaf atas kejadian-kejadian ini. Hari ini saya juga meminta maaf kepada
para janda dari Bulukumba, Pinrang, Polewali Mandar dan Parepare," kata Zwaan.
Selain itu, Pemerintah Belanda juga memberikan
kompensasi kepada 10 janda yang suaminya menjadi korban pembantaian tersebut
masing-masing sebesar 20 ribu Euro atau Rp 301 juta.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar